Sabtu, 26 Februari 2011

Margaretha Noni Hotma Dame Siallagan - Masih Lajang Jadi Relawan KB


Dididik dalam keluarga sederhana. Nasihat, dan pengalaman hidup membuatnya jauh dari kemewahan laiknya remaja lain.

Menjadi guru tanpa bayaran selama 35 tahun

USIANYA sudah mulai beranjak 70 tahun. Tapi semangatnya untuk mengajar ngaji tidak pupus, meski tidak meminta imbalan atau bayaran. Kegiatannya sebagai guru ngaji gratisan ini sudah dilakoninya sejak 35 tahun yang lalu. Dialah Solihah BA. Sosok wanita yang lembut dan penuh kasih sayang. Meski bukan guru komersial, tapi ia mampu mendidik empat orang anaknya, hingga selesai ke perguruan tinggi. Bahkan dua diantaranya sempat sekolah di luar negeri. Dan anak sulungnya, berhasil menyelesaikan S2 dan S3-nya di luar negeri. Itu semua atas izin Allah. Kalau bukan pertolongan Allah, mana mungkin Solihah mampu membiayai anaknya sekolah ke luar negeri. Kini semua anaknya, sudah berkeluarga dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Dua orang menjadi dosen, satu PNS, dan satu orang lagi di perusahaan swasta. Bagaimana Solihah menjalani kehidupannya sehari-hari, dengan pengabdian yang penuh ikhlas, demi mengajarkan ilmu Allah SWT ?.

Senin, 21 Februari 2011

Dr. Oemi Djauhari, MM PEJUANG BERHATI LEMBUT

Beliau adalah pribadi pejuang keras tak kenal lelah namun kalembutannya tak pernah berkurang walau diterpa dengan aktivitas yang berderet.
Tempat, Tgl. Lahir : Jember, 6 Juli 1945

Motto Hidup;
Orang boleh pensiun tapi tidak boleh pensiun berjuang dan Sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Bekerjalah untuk ibadah.
Umurnya tak muda lagi. Namun tanggung jawab sebagai Kepala UTD PMI Jember juga sekaligus Direktur RS. Ibu dan Anak Srikandi Jember mampu diembannya dengan baik. Selain jabatan tersebut beliau tetap aktif sebagai Bendahara Yayasan Pendidikan Tenaga Kesehatan yang membidangi SMF, Akbid, Akper. Sebagai ketua yayasan Abdi Husada yang bergerak dibidang Diagnostik kedokteran.

Peran Wanita dalam Sistem Peradilan

Konferensi Internasional "Hak Wanita dalam Proses Keadilan Hukum" baru-baru ini diselenggarakan di Tehran dengan dihadiri oleh para peneliti dan praktisi hukum Iran, Swiss, Bahrain, Australia, Pakistan, Italia, Sudan, Irak dan Skotlandia. Tujuan dari penyelenggaraan konferensi ini adalah membahas peran wanita dalam lembaga peradilan, meningkatkan kemampuan mereka dan dukungan lembaga peradilan negara-negara di dunia terhadap hak-hak wanita.
Di setiap masyarakat, wanita sebagai bagian terpentingnya memiliki hak-hak. Hukum terkait mereka juga telah disusun yang tentunya dipengaruhi oleh budaya dan keyakinan masyarakat tersebut. Republik Islam Iran sebagai simbol negara yang berdasarkan ajaran-ajaran Islam berhasil meningkatkan posisi manusiawi wanita dan mempersiapkan sarana demi pertumbuhan dan perkembangan potensi mereka.