Minggu, 15 Juli 2012

Para Ibu Hebat yang Mengubah Dunia Penulis : Prita Daneswari

Para Ibu Hebat yang Mengubah Dunia REUTERS/Soe Zeya Tun
WALAUPUN telah menjadi seorang ibu, para perempuan ini masih mampu menunjukkan eksistensinya. Tak hanya di keluarga, para ibu 'luar biasa' ini juga mampu memberikan sebuah perubahan bagi dunia.

1. Hadizatou Mani
Ketika berusia 12 tahun, Hadizatou Mani dijual keluarganya seharga US$500 untuk dijadikan budak. Ia menghabiskan waktu 10 tahun yang menyakitkan dan baru mendapatkan kebebasannya di usia 22 tahun. Ia kini masih berjuang untuk para perempuan di tanah airnya, Nigeria, yang terancam perbudakan meski sudah dinyakan ilegal. Hadizatou Mani juga pernah memenangi gugatan terhadap negaranya pada 2008 yang menyatakan bahwa Nigeria tidak menegakkan hukum-hukum kebebasan. "Saya tahu ini adalah satu-satunya cara untuk melindungi anak saya dari penderitaan yang pernah saya alami. Tidak ada orang yang pantas untuk diperbudak," ucapnya.

2. Martha Stewart
Entah apakah kita mencintai atau membencinya, sulit untuk menyangkal bahwa Stewart adalah merupakan sosok pembangkit para pengusaha. Ia mengasah keterampilan rumah tangga di awal usia 20 tahun sambil menjaga empat anak dari Mickey Mantle. Stewart memulai kariernya sebagai pialang saham kemudian meluncurkan sebuah perusahaan katering di ruang bawah tanah rumahnya pada 1976. Dalam 10 tahun, bisnis katering Stewart telah mencapai angka US$1juta dan telah menulis buku pertamanya, Entertaining. Dari situ, karier Stewart pun melejit. Pada 1990, Stewart meluncurkan majalah pertamanya, Martha Stewart Living, kemudian diikuti dengan acara TV yang didasarkan pada isi publikasi, puluhan buku, dan peluncuran majalah keduabta, Martha Stewart Weddings, acara radio, dan tentu saja website. Bahkan setelah Stewart digiring ke penjara karena insider trading pada 2004, ibu 70 ini masih memiliki kekayaan bernilai lebih dari US$240 juta.

3. Susan Hockfield
Sebagai presiden perempuan pertama dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT), Susan Hockfield menunjukkan kepada putrinya bahwa tidak ada batasan untuk dedikasi, kecerdasan, dan kerja keras bagi seorang permpuan. Seiring dengan posisi bergengsinya di Yale sebagai profesor neurobiologi dan Dekan Sekolah Pascasarjana sekaligus presiden dari MIT, penelitian ilmiah Susan berfokus pada kanker otak. Hal itu pun membuatnya menerima berbagai penghargaan atas kontribusi ilmiah dan prestasi profesional. Di bawah kepemimpinannya di MIT, Susan telah menjadi pendukung besar bagi penelitian kolaboratif, terutama di bidang energi, pendidikan, dan kanker.

4. Kate Winslet
Aktris asal Inggris dan ibu dari dua anak ini berhasil mendapatkan enam nominasi Academy Award sebelum akhirnya dinobatkan menjadi aktris terbaik dalam film Reader. Winslet sebelumnya juga terbilang sukses membintangi banyak film hit di Hollywood. Sebut saja Titanic, Eternal Sunshine dari Spotless Mind, Revolutionary Road, dan Sense and Sensibility. Namun, ia mendapatkan seseuatu yang special dari film Babble karena perjuangan melawan masalah citra tubuh. Kala mempertontonkan tubuhnya di The Reader, Winslet mengatakan kepada pers, "Saya hanya tidak percaya pada kesempurnaan. Tapi aku percaya ini adalah saya dan saya tidak sempurna! Saya bangga dengan itu." Pada 2012, Winslet akan diberikan kehormatan di Walk of Fame Holllywood.

5. Aung San Suu Kyi
Hanya sedikit orang yang rela berkorban begitu besar untuk berjuang, salah satunya adalah Aung San Suu Kyi. Dia adalah simbol demokrasi Myanmar. Usahanya pun membuatnya memenangi Nobel Perdamaian pada 1991 atas perjuangan tanpa kekerasan bagi hak asasi manusia. Demi kebebasan rakyat Myanmar, Suu Kyi menghabiskan 15 tahun dalam tahanan dan kehilangan waktu berharganya dengan dua anak dan suaminya, Michael Aris, yang meninggal pada 1999. Penahanannya berakhir pada November 2010. Meskipun dia tidak bisa menerima Nobel karena tengah dipenjara, putranya menggambarkan dedikasi sang ibu bagi Myanmar. "Saya tahu bahwa dia akan mulai dengan mengatakan bahwa ia menerima Hadiah Nobel Perdamaian bukan atas namanya sendiri, melainkan atas nama rakyat Burma. Berbicara sebagai anak, saya pribadi percaya bahwa dengan dedikasi dan pengorbanan pribadi, beliau telah menjadi simbol yang layak bagi semua rakyat Myanmar." (Pri/OL-06)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar